Bandung, 15 Nopember 2019

Pameran ini merupakan hasil dari penelitian berbasis karya seni yang dilakukan oleh Deni Yana dan Gustiyan Rachamadi dengan judul Transformasi Estetik Patung Keramik Tradisional Sebagai Penguatan Desa Wisata Gerabah Sitiwinangun di Kabupaten Cirebon. Secara umum desa wisata adalah tempat yang memiliki  nilai tertentu yang dapat menjadi daya tarik bagi wisatawan dengan minat khusus terhadap kehidupan pedesaan yang unik dan tidak dapat ditemukan di tempat lain. Demikian juga dengan desa Sitiwinangun di kabupaten Cirebon mempunyai keunikan dari sisi mata pencahariannya, yaitu sebagai pengrajin gerabah dengan sistem pembakaran yang khas, yaitu melalui pembakaran terbuka atau biasa disebut dengan istilah pembakaran ‘tungku ladang’, yang hanya memerlukan waktu 45 menit untuk menjadikan tanah liat menjadi gerabah dalam berbagai bentuk. Keunikan tersebut menjadi modal bagi desa Sitiwinangun untuk dijadikan sebagai desa wisata. Dengan terbentuknya desa wisata akan meningkatkan posisi dan peran masyarakat sebagai subyek atau pelaku penting dalam pembangunan kepariwisataan, yang pada akhirnya mendorong terciptanya kesejahteraan bagi penduduk desa tersebut.

   

Gerabah Sitiwinangun selain mempunyai keunikan di sisi pembakaran, juga yang unik bila dilihat dari sisi tematik, terutama pada patung gerabah yang masih mengacu pada obyek dalam mitologi Cirebon, seperti Paksinagaliman, Singabarong, Macan Ali, Burok, Jatayu, Garuda Mungkur dan Gajah Mungkur menjadi keunggulan dari desa Sitiwinangun yang tidak terdapat di daerah lainnya. Patung gerabah dari Sitiwinangun secara bentuk tidak mengalami perubahan yang signifikan, sehingga ketika sitiwinangun diarahkan untuk menjadi desa wisata dengan kerajinan patung gerabah mitologi sebagai salah satu cinderamata utama untuk dikonsumsi oleh wisatawan, maka memerlukan berbagai pengembangan. Dalam konteks pengembangan inilah Deni Yana dan Gustiyan Rachmadi mencoba memindahkan konteks ruang kreasi tidak hanya di Sitiwianangun, tetapi ke sentra keramik Plered di Purwakarta dan ke tangan para mahasiswa seni rupa ISBI Bandung. Dengan demikian akan menghasilkan transformasi estetik yang lebih dinamis dengan keragaman yang tinggi hasil dari interpretasi dari kreator yang dibesarkan bukan berasal dari budaya tradisi Cirebonan.

   

Pengembangan patung keramik tradisional Sitiwinangun sendiri menggunakan menggunakan metode morfologi estetis dan metode ATUMICS (Artefack, Technic, Utility, Material, Icon, Concept, Shape) sebagai penunjang melalui tahapan : identifikasi, analisis, pengembangan sketsa/desain, aplikasi sketsa/desain, pembuatan mock up, pameran karya/produk. Melalui kerjasama dengan perajin keramik Sitiwinangun yang terhimpun dalam kelompok usaha gerabah Bina Usaha dan perajin keramik Plered sebagai mitra dan mahasiswa FSRD ISBI Bandung, maka dapat dihasilkan bentuk-bentuk patung keramik mitologi Cirebon dengan berbagai varian sesuai dengan karakter kelompok pembuatanya.

   

Berdasarkan hal tersebut, maka pada pameran ini dapat dilihat transfomasi estetik patung keramik mitologi Cirebon dari yang masih mengacu pada ornamentasi yang rumit dari Sitiwinangun dengan ciri khas hasil bakaran tungku ladang yang cenderung berwarna coklat kemerahan, ke patung keramik hewan mitologi buatan Plered yang seperti menjadi bentuk-bentuk keramik celengan yang biasa diproduksi di Plered, yaitu dengan menggunakan cat untuk mewarnai permukaan keramik sehingga mengkilap yang memunculkan imej hewan mitologi secara lebih ‘popular’ yang mungkin bisa menarik mata wisatawan lokal. Sedangkan pada karya mahasiswa ISBI Bandung, bentuk patung keramik cenderung berukuran lebih kecil dengan efek warna yang cenderung gelap akibat dari efek material yang digunakan, sehingga menghasilkan kesan sepeti karya karya seni masyarakat suku.

   

Akhirnya, melalui pameran hasil penelitian ini diharapkan menjadi salah satu cara untuk melestarikan dan mengembangkan serta merevitalisasi budaya tradisi khususnya kerajinan keramik tradisional Desa Sitiwinangun Kecamatan Jamblang Kabupaten Cirebon, sehingga dapat meningkatkan nilai tambah produk, minat dan apresiasi masyarakat serta terciptanya sinergi dan kerjasama masyarakat, industri, pemerintah dan kalangan akademisi dari perguruan tinggi.

HASIL KARYA PATUNG

      

  

SESI DISKUSI